RSS

Orang Arab dalam Menerima tamu

Budaya arab menekankan betapa pentingnya menghormati tamu dan memanjakan tamu. Tuan rumah akan berusaha sebaik mungkin untuk membuat tamunya merasa nyaman. Tuan rumah akan menghidangkan makanan dalam porsi yang berlebihan supaya setiap tamu benar-benar puas. Para tamu tidak harus menunggu sampai dipersilahkan untuk mengambil makanan yang dihidangkan. Tapi bila tamu telah mengambil minuman dalam gelas dan meminumnya / mengambil makanan (nasi, roti, daging, dsb) dalam piring anda, maka ia harus menghabiskannya. Menyisakan makanan di piring dan minuman di gelas, membuat perasaan mereka terganggu. Kebiasaan lain adalah tuan rumah dan anaknya merupakan orang terakhir yang mengambil makanan sebagai bentuk penghormatan tamu. Selain itu, meski sebenarnya tuan rumah telah selesai makan, dia akan bertingkah seakan-akan dia masih menghabiskan makanannya sampai semua orang selesai. Dalam hal ini, tuan rumah mengharapkan agar para tamu tidak terburu-buru saat bersantap.

Al sabt (2004)memberikan nasehat kepada pebisnis amerika yang akan berkunjung ke negeri arab. “Jika anda diundang makan siang atau malam di sebuah restoran, maka yang mengundang akan membayar semua makanan, dan akan memberikan kesan yang menyenangkan pada teman arab anda jika anda melakukan hal yang sama ketika dia mengunjungi anda. Ketika anda mengundang patner arab anda, perlu diingat bahwa muslim dilarang untuk mengkonsumsi alcohol dan babi.

 
Leave a comment

Posted by pada Juni 15, 2011 in Kebudayaan Arab

 

Sinopsis Cerpen “Perlihatkan Allah Padaku!”

Ada seorang lelaki saleh yang bersih hatinya. Dia mempunyai seorang anak laki-laki yang masih kecil namun cerdas. Mereka sering bercengkerama bersama dan berbicara apa saja.

Suatu hari sang anak meminta bapaknya untuk memperlihatkan allah kepadanya. Karena sang ayah sering kali menyebut nama allah sementara dia tidak pernah memperlihatkannya kepada anaknya. Lelaki itu pun bingung harus menjawab apa.

Kemudian anak itu meminta bapaknya agar melihat allah terlebih dahulu setelah itu ia meminta bapaknya agar memperlihatkannya kepadanya.

Kemudian lelaki itu berniat untuk bertanya kepada para ahli agama. Ia terus berjalan menyusuri kota. Ia bertanya dari satu orang ke orang yang lain. Tapi tak ada yang bisa menjawabnya. Sampailah ia kepada seorang tua renta. Ia pun bertanya kepadanya. Tapi dia juga tidak bisa menjawabnya. Sang kakek memberitahu bahwa di ujung kota ini ada seorang ahli ibadah yang apabila dia berdoa kepada allah, doanya selalu dikabulkan.

Tanpa menunggu lama lelaki itu langsung menemui ahli ibadah yang ditunjukkan oleh kakek. Tanpa basa-basi lelaki itu meminta ahli ibadah agar sang ahli ibadah bisa memperlihatkan allah kepada lelaki itu. Sang ahli ibadah itu mengatakan bahwa seseorang dapat melihat allah apabila allah telah menyingkaprtuhnya.

Akhirnya sang ahli ibadah mendoakan lelaki itu agar mendapat setengah dzarrah dari cinta allah. Setelah didoakan lelaki itu pergi menyusuri gunung satu ke gunung yang lain. Dan ternyata lelaki itu telah menjadi gila.

Judul Asli : ارني الله

Karya : Taufiq El Hakim

 

 
Leave a comment

Posted by pada Juni 15, 2011 in Kumpulan Cerpen_Sinopsis

 

Bangunan Rumah “Orang Arab”

خيمةMasyarakat arab dibagi tiga komunitas, yaitu komunitas gurun, komunitas pedesaan, dan komunitas perkotaan. Bagi masyarakat gurun, rumah tinggal mereka umumnya berupa khaimah (خيمة) atau kemah – kemah sederhana yang mudah bongkar – pasang saat mereka harus pindah tempat.

عشةDi pedesaan, yang dihuni oleh masyarakat yang telah menetap, rumah tinggal mereka disebut isyyah (عشة) yaitu rumah sangat sederhana yang bagian bawahnya terbuat dari susunan batu, bertiangkan kayu – kayu padang pasir dan beratapkan daun – daun kurma. Rumah – rumah ini biasanya dibangun di wa:di atau lembah yang terlindung dari angin kering dan badai yang panas.Di daerah2 yang banyak turun hujan, rumah2 terbuat dari qusy/ qashab (jerami) berbentuk kerucut.

في المدينةDi perkotaan, rumah-rumah penduduk umumnya lebih bagus dan kuat. Di zaman modern (terutama daerah perkotaan), apartemen menjadi salah satu pilihan untuk tempat tinggal . di kairo sebagai contoh, jumlah penduduk yang tinggal di apartemen lebih banyak dari pada yang tinggal di perumahan. Namun penataan ruang di apartemen tetap mengacu kepada budaya yang memperhatikan privasi dan norma-norma hubungan pria-wanita.

Mengingat betapa pentingnya private di kalangan orang arab, mereka membangun rumah dengan tembok yang besar dan kokoh untuk menjaga privasi mereka dari para tetangga dan orang – orang di jalan. Satu hal yang patut dipertimbangkan dalam membangn rumah ialah jaminan bahwa penghuni rumah tidak bisa melihat tetangga mereka dari sudut manapun demi terjaganya privasi tetangga mereka.

Norma yang dianut dalam hubungan anatara pria dan wanita juga berpengaruh terhadap penataan ruang di dalam rumah. Ruang tidur, ruang tamu, bahkan ruang makan masing-masinmg terpisah untuk laki-laki dan perempuan.

Di setiap rumah orang arab terutama di daerah teluk, terdapat ruangan yang disebut dewaniah atau majelis untuk tempat pertemuan / ruang tamu. Kebanyakan ruangan ini hanya diperuntukkan bagi tamu pria saja. Ruangan ini terletak di luar rumah di dekat pintu masuk. Tamu wanita bertemu di ruangan yang berada di dalam rumah dan kadangkala untuk memasukinya terdapat pintu masuk khusus tamu wanita. Di beberapa daerah di arab, pria dan wanita yang tidak punya hubungan darah secara langsung / bukan suami istri tidak dicampur dalam satu ruangan. Oleh karena itu terdapat ruangan terpisah khusus pria dan wanita, meski tidak semua rumah mempunyainya.

 
Leave a comment

Posted by pada April 21, 2011 in Kebudayaan Arab

 

Pengertian Kecerdasan Spiritual

Secara terminologi, kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan pokok yang dengannya dapat memecahkan masalah-masalah makna dan nilai, menempatkan tindakan dalam konteks yang lebih luas, kaya, dan bermakna. (Zohar dan Marshall dalam Siswanto, 2010).

Menurut Siswanto (2010) kecerdasan spiritual seseorang diartikan sebagai kemampuan seseorang yang memiliki kecakapan transenden, kesadaran yang tinggi untuk menjalani kehidupan, menggunakan sumber-sumber spiritual untuk memecahkan permasalahan hidup, dan berbudi luhur. ia mampu berhubungan dengan baik dengan Tuhan, manusia, alam dan dirinya sendiri.

Orang yang cerdas spiritualnya akan menjalani hidupnya sesuai dengan yang diajarkan agamanya. sebagai orang Islam, kita menjalankan hidup sesuai dengan yang dikehendaki pencipta kita : Allah.

Orang Islam yang cerdas spiritualnya bekerja hanya untuk Allah. Muslim yang cerdas spiritulnya hanya menggantungkan hidupnya kepada Allah. Orang yang secara spiritualnya akan bekerja keras dan menyerahkan hasilnya kepada Allah. Muslim yang cerdas spiritualnya akan berusaha keras untuk mempunyai akhlak mulia. Mereka berusaha menghindari akhlak-akhlak buruk

Dengan mengetahui kecerdasan spiritual kita bisa membimbing anak kita ke arah yang baik. Kita bisa mendidik anak untuk :

mengenal keesaan Allah, mengenal kebesaran Allah, mencintai Allah, berdoa setiap hari, belajar shalat, berada dalam perjalanan menjadi baik, berani untuk berpendirian pada kebenaran, kehidupan anak Anda sebagai makhluk spiritual, mencintai semua manusia, menahan diri untuk tidak melanggar hukum, berbuat baik terhadap orang lain, mencintai tumbuhan, mencintai binatang, berbuat sesuai dengan perkataannya, bersyukur atas keberuntungannya, jujur, amanah (memegang janji), toleran terhadap perbedaan, anti kekerasan, tawadlu’ (rendah hati), hemat, tidak konsumtif dan tidak boros, dermawan, sopan, dapat dipercaya, menjadi orang yang terbuka, sabar, mandiri.

Sumber : “Membentuk Kecerdasan Spiritual Anak” oleh Wahyudi Siswanto

 
Leave a comment

Posted by pada April 21, 2011 in Kecerdasan Spiritual Anak

 

Struktur Keluarga Arab

 Dalam masyarakat arab, sebuah keluarga terbetuk melalui  pernikahan.

Cara pernikahan masyarakat lama dalam pandangan Islam  dapat dibedakan menjadi dua. Pertama, cara dan unsure –  unsure pernikahan yang dibenarkan dan ditetapkan sebagai  syariat Islam, yaitu pernikahan yang dilakukan dengan  memenuhi syariat khitbah, mahar, dan akad. Kedua,  pernikahan syadz atau menyimpang, yang tidak sesuai  dengan nilai – nilai kemanusiaan atau hanya mengutamakan kepuasan seksual. Bentuk – bentuk pernikahan yang kemudian dilarang oleh Islam ini ada beberapa macam, yakni :

(1)   Nikah al-Maqt (نكاح المقت) yaitu menikahi bekas isteri ayah yang sudah meninggal

(2)   Nikah al-Syigha:r (نكاح الشغار) yaitu pertukaran anak perempuan untuk dinikahi tanpa mahar

(3)   Nikah al-Istibdha:’ (نكاح الاستبضاع) yaitu pernikahan dengan mnempatkan wanita sebagai bidha’ah atau barang dagangan

(4)   Nikah al-Rahth (الرهط) yaitu pernikahan untuk kepuasan seksual tanpa batasan jumlah isteri

(5)   Nikah al-Badal (نكاح البدل) yaitu pernikahan dengan tukar – menukar isteri

(6)   Nikah al-Bagha:ya (نكاح البغاي) yaitu untuk hidup bersama tanpa nikah (kumpul kebo)

Bagi masyarakat arab pernikahan merupakan sesuatu yang sangat penting karena menyangkut keturunan. Mereka sangat memperhatikan silsilah keluarga. Nama seorang anak biasanya terdiri dari satu kata karena harus diikuti dengan nama ayah atau nama keluarga di belakangnya. Wanita yang telah bersuami tetap harus menyertakan nama ayahnya di belakang namanya, berbeda dengan tradisi di Indonesia yang menyertakan nama suami di belakang namanya. Setiap anggota keluarga biasanya hafal silsilah keluarganya yang digambarkan dalam bentuk sebatang pohong, dimulai dari urutan yang paling tua ditulis paling bawah, dari akar, batang, cabang, ranting, dan daun.

Dalam keluarga arab, jender dan umur memainkan peranan penting dalam kaitannya dengan masalah tanggung jawab. Sang ayah biasanya menjadi kepala keluarga dan memenuhi segala kebutuhan, sedangkan sang ibu peran utamanya adalah membesarkan anak dan mengurus rumah. Struktur keluarga tidak selalu seperti itu, di masa kini, baik ayah maupun ibu memenuhi kebutuhan keluarga, sedangkan untuk mengurus rumah dilakukan oleh pembantu. Di masa lalu, biasanya sang ayah yang membuat keputusan tentang masalah keluarga, namun dewasa ini ayah dan ibu bersama – sama membuat keputusan. Anak laki – laki dan perempuan dididik untuk mengikuti tradisi leluhur dan diberi tanggung jawab sesuai dengan umur dan jendernya. Anak laki –laki biasanya dididik untuk melindungi saudara perempuannya dan membantu ayah dalam bekerja baik di dalam maupun di luar rumah, sedangkan anak perempuan dididik menjadi sumber kasih saying dan pendorong secara emosional dalam keluarga, dan juga membantu ibu untuk mengurus rumah.

Pada masa lalu bentuk keluargaArab adalah keluarga besar. Mereka hidup dalam satu rumah, terdiri dari kakek – nenek, ayah – ibu, dan sejumlah anak, bahkan paman dan bibi yang belum menikah. Namun kondisi itu kini telah berubah. Dalam satu rumah tinggal keluarga inti, terdiri dari ayah, ibu, dan satu atau dua orang anak. Hal ini disebabkan kesibukan masing – masing anggota keluarga. Suami dan isteri sama –sama bekerje di luar rumah, sementara anak – anak sibuk dengan kegiatannya sendiri.

Anak perempuan tinggal di rumah selama belum menikah, ketika dia menikah dia tinggal di rumah suami. Anak laki – laki bisa pindah ke rumah mereka sendiri ketika sudah menikah, tapi paling tidak ada satu anak yang tetap tinggal di rumah keluarga meski sudah menikah untuk merawat orang tua. Ketika perempuan menikah tidak ada perubahan yang terjadi pada namanya.

Orang arab mengajarkan mereka nilai – nilai budaya dan kebiasaan sejak masa dini. Untuk setiap umur ada tanggung jawab social dan pekerjaan yang sesuai dengan perkembanan umur mereka. Dalam hal pekerjaan rumah, tidak ada diskriminasi antara laki – laki dan perempuan. Anak laki – laki juga menyapu rumah, mencuci piring, dan menyeterika pakaian.

 
Leave a comment

Posted by pada April 20, 2011 in Kebudayaan Arab

 

Sinopsis Cerpen “Malam Pengantin”

Kisah dimulai dengan sebuah pesta pernikahan antara Saniyyah, seorang gadis cantik dan belia yang menikah dengan pria mapan berusia 36 tahun. Mereka menikah atas dasar perjodohan oleh kedua orangtuanya. Sebenarnya Saniyyah sudah memiliki kekasih namun demi menyenangkan hati ibunya, dia bersedia menikah dengan laki-laki tersebut.

Tak seperti malam pengantin yang biasanya terjadi, malam pengantin mereka penuh dengan air mata. Saniyyah tak sanggup menahan gejolak hatinya. Dia berkata jujur kepada suaminya bahwa dia sudah mempunyai kekasih. Dia juga mengatakan bahwa dirinya tidak mencintai sang suami dan dengan terpaksa bersedia menikah untuk membahagiakan ibunya. Mendengar pernyataan itu, suaminya kaget dan kecewa. Namun sang suami dengan ikhlas menyerahkan segala keputusan akhir pada Saniyyah. Bahkan, dia membantu isterinya mencari alasan agar mereka dapat bercerai.

Mereka kemudian menyusun sebuah skenario untuk membuat gambaran seolah-olah rumah tangga mereka tidak harmonis. Dengan demikian Saniyyah memiliki alasan untuk mengajukan gugatan perceraian dihadapan ibunya. Dalam sandiwara tersebut, Sang suami berpura-pura menjadi orang yang memiliki perangai jahat, bengis dan sifat-sifat negatif lain yang sebenarnya tidak dimilikinya. Ternyata Sang suami pandai memainkan skenario tersebut sampai Saniyyah merasa suaminya memang benar-benar membencinya. Saniyyah mulai jenuh dengan permainan tersebut dan berharap agar suaminya menghentikan sandiwara itu karena dia merasa tidak nyaman diperlakukan kasar dan tidak sebagaimana layaknya seorang istri walaupun sebenarnya permainan tersebut Saniyyah yang menginginkannya.

Saniyyah mengutarakan keberatannya atas sandiwara tersebut kepada suaminya. Namun, sang suami malah menghiburnya dengan mengatakan bahwa mereka akan berpisah. Anehnya Saniyyah tidak merasa bahagia dengan perpisahan tersebut. Dia tersadar, nuraninya berkata bahwa dia sebenarnya mencintai suaminya. Dan dia bertekad tidak akan melepaskannya dan berpisah dengan suaminya. Kasih sayang itu muncul besama hari-hari yang sudah dilalui Saniyyah dengan suaminya. Suaminya sempat tidak percaya bahwa Saniyyah juga mencintainya, namun dengan kegigihan Saniyyah, akhirnya suaminya percaya dan mereka hidup bahagia mengarungi bahtera rumah tangga dengan cinta yang tulus.

Judul Buku : Lailatuz Zifaf

Karya : Taufiq El Hakim

 
1 Comment

Posted by pada April 20, 2011 in Kumpulan Cerpen_Sinopsis

 

Sinopsis Cerpen “Khalil si bocah Kafir”

Di Libanon Utara ada seseorang yang merasa bahwa dirinya adalah pemimpin desa itu, yang bernama Sheikh Abbas. Ia adalah orang yang kaya raya. Hal ini berbeda jauh denngan keadaan penduduk desa itu yang serba miskin. Setiap panen tiba, penduduk desa harus menyerahkan sebagian hasil panennya kepada Sheikh Abbas. Mereka sangat tunduk dan patuh kepada Sheikh Abbas dan tak ada seorang pun yang berani melawannya. Mereka takut dan khawatir akan kemarahan Sheikh Abbas.

Kisah ini dimulai ketika pada suatu malam ada seorang pemuda yang berjalan dibawah dinginnya salju. Tubuhnya menggigil kedinginan dan ia meminta tolong kepada siapa saja yang bisa menolongnya. Akhirnya ia jatuh pingsan karena tidak kuat menahan rasa dingin.

Ternyata ada yang mendengar teriakan pemuda itu. Mereka adalah Rachel –seorang janda- dan putrinya, Maryam. Rachel dan Maryam tinggal di sebelah utara desa Sheik Abbas. Rachel dan Maryam pun keluar rumah dan menolong pemuda itu untuk kemudian dibawa ke rumahnya.
Pemuda itu adalah seorang biarawan. Setelah sadar dari pingsannya, ia mengaku bahwa telah diusir dari gereja karena telah memberontak terhadap aturan-aturan gereja. Pemuda itu bernama Khalil. Ia juga menceritakan asal usulnya. Pada waktu kecil ia sudah menjadi yatim piatu. Sejak itu ia diasuh oleh pendeta. Di sana ia tidak dididik untuk menjadi pendeta, tetapi ia mempunyai tugas tersendiri untuk menggembala kambing. Setelah bertahun-tahun hidup di gereja, ia tahu bahwa kehidupan para pendeta setiap hari berfoya-foya dengan harta masyarakat, padahal di muka umum mereka berkhutbah kepada semua orang untuk meninggalkan kehidupan duniawi.

Rachel dan Maryam merasa iba kepada Khalil dan menawarkan untuk tetap tinggal bersama mereka. Namun hati kecilnya mengatakan, apa kata orang jika ia tetap tinggal disitu bersama seorang gadis. Apalagi jika masyarakat dan Abbas sampai tahu keberadaannya di rumah itu sebagai seorang yang terusir. Namun ia tak tahu harus kemana lagi. Khalil pun menerima tawaran mereka. Lambat laun tumbuhlah benih-benih cinta antara Maryam dan Khalil.

Setelah beberapa lama tersebarlah berita bahwa ada pemuda yang diusir dari gereja. Anak buah Abbas yang bernama Ilyas mengetahui keberadaan Khalil yang ternyata biarawan yang diusir dari gereja. Abbas yang telah terhasut pihak gereja agar mengusir Khalil dari desa menangkap dan menghakimi Khalil secara paksa. Abbas tak ingin daerahnya dijadikan tempat persembunyian orang ‘’kafir’’ yang berlumuran dosa.

Khalilpun diseret ke rumah syaikh Abbas dan semua orang datang untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman untuk khalil. Sebelum dibunuh khalil berusaha memempengaruhi masyarakat dan menyakinkan mereka bahwa selama ini para pendeta yang mereka anggap suci dan sebagai penguasa yang ditakuti adalah seorang penipu yang hidupnya berfoya-foya dengan harta mereka.
Perkataan khalil ternyata mampu menyakinkan masyarakat. Abbas akhirnya menjadi gila. Rakyat tak lagi takut dan menghiraukan Abbas. Ketika tiba saat panen rakyat tak lagi berkeluh kesah untuk memberikan hasil pajak kepada Abbas lagi. Setelah peristiwa itu, khalil menikah dengan Maryam. Kehidupan rakyat pun menjadi membaik dan mereka dapat menikmati hasil panen lading dan sawah mereka.

Judul Buku : Jiwa-jiwa pemberontak

Judul Asli : al arwah al mutamaridah

Karya : Kahlil Gibran

 
Leave a comment

Posted by pada April 20, 2011 in Kumpulan Cerpen_Sinopsis

 

Peribahasa

Ini beberapa peribahasa yang masih kuingat yang kupelajari semenjak kecil , ….

1. Air diminum rasa duri, nasi dimakan rasa sekam.

Artinya : Tidak enak makan dan minum ( biasanya karena terlalu bersedih / duka ).

2. Ada gula ada semut

Artinya : Di mana banyak kesenangan di situlah banyak orang datang.

3. Ada udang di balik batu.

Artinya : Ada suatu maksud yang tersembunyi.

4. Anak dipangku dilepaskan, beruk di rimba disusukan.

   Artinya : Selalu membereskan urusan orang lain tanpa mempedulikan urusan sendiri.

5. Air beriak tanda tak dalam.

Artinya : Orang yang banyak bicara biasanya kurang ilmunya.

6. Anak dipangku dilepaskan, beruk di rimba disusui.

Artinya : Selalu membereskan urusan orang lain tanpa mempedulikan urusan sendiri.

7. Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga.

Artinya : Biasanya sifat anak menurut teladan orang tuanya juga.

8. Air susu dibalas dengan air tuba.

Artinya : Kebaikan dibalas dengan kejahatan / keburukan.

9. Anjing menggonggong, khafilah berlalu.

Artinya : Biarpun banyak rintangan dalam usaha kita, kita tidak boleh putus asa.

10. Air tenang menghanyutkan.

Artinya : Orang yang pendiam biasanya banyak pengetahuannya.

 
Leave a comment

Posted by pada September 24, 2010 in Peribahasa

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.